Rabu, 05 November 2014

Jenis Bentuk Tiga Dimensi dan Menggambar Bentuk

Jenis Bentuk Tiga Dimensi (Three Dimensional Shape)
1. Bentuk benda kubistis
    Benda kubistis adalah benda-benda yang bentuknya menyerupai bangun kubus (balok). Misalnya, meja, kursi, lemari, bak sampah, kotak pensil, kulkas, dan
sebagainya.


2. Bentuk benda silindris
    Benda silindris adalah benda-benda yang bentuknya menyerupai silinder (elips). Misalnya, botol, gelas, piring, mangkuk, teko, dan sebagainya.


3. Bentuk benda bebas
    Benda yang memiliki bentuk bebas adalah bendabenda yang bentuknya tidak beraturan. Misalnya, buahbuahan, pepohonan, batu-batuan, dan benda-benda alam lainnya.
(image source: Seni Rupa Tri Ady Margono & Abdul Aziz)


Menggambar Bentuk (Drawing Shape)

       Menggambar merupakan proses pengungkapan gagasan seseorang melalui bahasa gambar.


Misalnya, seorang desainer ingin membuat guci, tentu ia akan membuat rancangan dalam bentuk gambar sebelum dibuat bentuk guci yang sesungguhnya. Untuk dapat membuat gambar yang
baik, seseorang harus menguasai kemampuan menggambar terutama menggambar bentuk.
       Menggambar bentuk adalah cara menggambar dengan meniru objek dan mengutamakan kemiripan rupa.
       Semakin mendekati kemiripan rupa, berarti gambar bentuk yang dibuat semakin sempurna. Objek gambar bentuk bisa dari benda-benda mati, flora, fauna, manusia, atau alam sekitar.


Mantra (Pengertian Mantra, Karakteristik Mantra, Contoh Mantra)

       Mantra adalah rangkaian kata yang mengandung rima dan irama yang dianggap mengandung kekuatan gaib. Mantra biasanya diucapkan oleh seorang dukun atau pawang untuk atau menandingi kekuatan gaib lainnya. Namun, hakikat mantra itu sendiri adalah doa yang diucapkan oleh seorang pawang dalam keadaan trance atau kerasukan. Di dalam mantra yang penting bukan makna kata demi kata, melainkan kekuatan bunyi yang bersifat sugestif.

       Karakteristik mantra sangat unik. Menurut Umar Junus (1983: 135), ciri-ciri mantra adalah sebagai berikut.
1. Di dalam mantra terdapat rayuan dan perintah.
2. Mantra mementingkan keindahan bunyi atau permainan bunyi.
3. Mantra menggunakan kesatuan pengucapan.
4. Mantra merupakan sesuatu yang utuh, yang tidak dapat dipahami melalui bagian-bagiannya.
5. Mantra sesuatu yang tidak dipahami oleh manusia karena merupakan sesuatu yang serius.
6. Dalam mantra terdapat kecenderungan esoteris (khusus) dari kata-katanya.

Perhatikan contoh mantra berikut ini, yang biasa diucapkan pawang ketika mengusir anjing galak.
      Pulanglah engkau kepada rimba sekampung,
      Pulanglah engkau kepada rimba yang besar,
      Pulanglah engkau kepada gunung guntung,
      Pulanglah engkau kepada sungai yang tiada berhulu,
      Pulanglah engkau kepada kolam yang tiada berorang,
      Pulanglah engkau kepada mata air yang tiada kering,
      Jikalau kau tiada mau kembali, matilah engkau.

Syair (Pengertian Syair dan Contoh Syair)

       Syair berasal dari kesusastraan Arab dan tumbuh memasyarakat pada sekitar abad ke-13, seiring dengan masuknya agama Islam ke Nusantara. Seperti halnya puisi lama yang lain seperti pantun, syair memiliki empat larik dalam setiap baitnya; setiap larik terdiri atas empat kata atau antara delapan sampai dengan dua belas suku kata. Tetapi bedanya adengan pantun, syair tidak pernah menggunakan sampiran. Dengan demikian, larik-larik yang terdapat dalam syair memuat isi syair tersebut.
       Perbedaan antara pantun dan syair terletak juga pada pola rima. Yaitu pantun berpola a-b-a-b, maka syair berpola a-a-a-a. Karena bait syair terdiri atas isi semata, antara bait yang satu dengan bait lainnya biasanya terangkai sebuah cerita. Jadi, apabila orang akan bercerita, syair adalah pilihan yang tepat. Cerita yang dikemas dalam bentuk syair biasanya bersumber dari mitologi, religi, sejarah, atau dapat juga rekaan semata dari pengarangnya.
       Syair yang cukup terkenal yang merupakan khazanah sastra Nusantara, misalnya Syair Perahu karya Hamzah Fansuri, Syair Singapura Dimakan Api karya Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, Syair Bidasari, Syair Abdul Muluk, Syair Ken Tambunan, Syair Burung Pungguk, dan Syair Yatim Nestapa.

Contoh beberapa bait pengantar Syair Burung Pungguk:
       Bismillah itu mulia dikata
       Limpah rahmat terang cuaca
       Berkat Mohammad penghulu kita
       Lalah penghulu alam pendeta
Al rahman itu sifat yang sani
Maknanya murah amat mengasihani
Kepada muimin hati nurani
Di situlah tempat mengasihani
       Al rahim itu pengasihan kita
       Kepada Allah puji semata
       Itulah Tuhan yang amat nyata
       Memberi hambanya berkata-kata
Dengarkan tuan suatu rencana
Dikarang oleh dagang yang hina
Sajaknya janggal banyak tak kena
Daripada akal belum sempurna